October 29, 2014

Siklus Hidup, bukan Siklus Krebs

Dalam kepercayaan beberapa agama, manusia dikatakan sebagai makhluk ciptaan yang paling tinggi kodratnya, di antara semua makhluk hidup lainnya. Dibentuk secara eksklusif dari peperangan antara berjuta-juta sel sperma, mengarungi asamnya liang vagina, hingga akhirnya hanya satu yang mampu menembus lapisan-lapisan pada sel telur. Dengan kata lain, mereka berjodoh dalam lika-liku beratnya persaingan "cinta".

Setelah proses pembuahan ini terjadi, kedua sel ini berpadu, membagi bawaannya sama besar, menumbuhkannya dengan cinta, membelah diri mereka dan akhirnya terbentuklah seonggok janin yang tertanam dalam rahim sang perempuan, tempat perpagutan asmara itu terjadi.

Janin ini dalam perjalanannya terbentuk begitu unik dan hebatnya, ia sebenarnya adalah jaringan asing (re: parasit) bagi tubuh sang inang, tapi tak serta-merta dibunuh layaknya Mpu Gandring yang dibunuh dengan keris buatannya sendiri. Dengan mempengaruhi pula kerja tubuh sang ibu, ia menyerap semua yang dicerna oleh sang ibu dan memulai semua proses perkembangannya selama 38-40 minggu dalam kolam ketuban, berenang-renang. Jadi, tak heran bila orang-orang berkata, "Surga ada di bawah telapak kaki ibu..." Karena pada awalnya, kita sudah berada jauh di atas surga, di dalam pelukan rahim ibu saat semua yang kita butuhkan tersedia di sana.

Setelah ia lahir dengan susah payah, baik dengan eranan sang ibu ataupun sayatan pisau operasi, parasit ini seperti kado yang indah buat semua perempuan di dunia, melebihi semua pesta sweet seventeen yang dilaksanakan saat sekolah menengah dulu, kemudian kita menyebutnya bayi, prolog kehidupan manusia di dunia luar.

Dari sini, kita belajar betapa sulitnya mencari kebutuhan (baru kemudian pada saat dewasa kita belajar ada yang namanya toserba atau toko serba ada, yang sebenarnya tidak lengkap karena jodoh tak dijual di sana) di luar kolam ketuban. Kita harus mencari puting susu ibu untuk sekedar mengenyangkan perut dan meminta kekebalan tubuh (Bukan! Bukan Ilmu Debus seperti yang kita tahu di Banten). Dari sini pula, kita belajar bahwa hidup kita tak akan mudah, Bung! Perlu usaha untuk menggapai segalanya dan ada saatnya kita menangis karena tak semua yang kita butuhkan bisa kita dapatkan.

Bila kita renungkan, mungkin ini adalah fase kehidupan paling primitif yang pernah kita rasakan. Tapi, fase hidup ini adalah fase ketenangan hakiki, saat ego diri merupakan tujuan utama dalam hidup. Senang saat kenyang dan sendu saat syahdu.

Jadi, apakah bukan berarti saat kita menjunjung ego diri, kita akan berbahagia secara paripurna? Jawabannya, bisa ya, bisa tidak.

Dulu, kita mungkin bisa egois lahir batin karena semua perhatian tertuju pada kita dan tak banyak kewajiban yang kita lakukan untuk semua hak yang kita dapatkan. Tapi, seiring berjalannya kehidupan, kita mungkin mengenal namanya keadilan dan keseimbangan. Di mana jumlah atau bentuk hak yang kita dapatkan, sesuai dengan usaha dan kewajiban yang telah kita lakukan.

Setelah fase ini, kita mulai disusupi dengan semua paham yang mampu membuat sinaps-sinaps otak kita berkembang, membuat jembatan-jembatan antara satu sama lain untuk mengirimkan loncatan listrik dalam sel otak kita (mungkin ini sebabnya kenapa pikiran selalu menjadi sumber kekuatan dan juga masalah bagi kita, terlalu sering berloncatan dan terlalu cepat bekerja). Kita mengenal sekolah dan kursus, kita mengenal teman, kita mengenal musuh, kita mungkin juga mengenal cinta. Kita mulai mengetahui bahwa, "Hey, bukan kamu saja yang ada di dunia ini! You're not the only special one..."

Di sini kita belajar apa itu berbagi, tapi kita juga belajar bahwa tak semua orang mampu berbagi. Tak semua orang bisa hidup dalam kebersamaan. Rebutan mainan, kolam bola, atau pun sisir Barbie bisa terjadi di sini. Yang menang, senang. Sebaliknya, yang kalah, hidup dalam gundah. Hal tersering setelah itu? Berlari menuju inang utama kita, ibu. Kita sering sebut ini sebagai fase anak-anak.

Selanjutnya, fase remaja, di mana godaan pencarian jati diri layaknya Biksu Tong mencari Kitab Suci ke Barat meluap-luap. Zat aktif bernama hormon mulai bergejolak dan kita mengenal apa itu seksualitas. Cinta bukan lagi hal tabu yang diperbincangkan, tapi hal yang patut kita perjuangkan. Tapi, itu semua bukan hanya tentang bagaimana menegakkan batang kelamin ataupun membasahi semua liang sanggama semata, tapi juga bagaimana kita bisa merasa nyaman bila ada di dekat orang yang kita cinta, selain ibu dan ayah.

Kelainan yang sering terjadi di sini? Manusia-manusia yang masih terlalu nyaman untuk melepas fase hidup sebelumnya, mereka masih mau menjadi primadona bagi lingkungannya, masih mengedepankan egonya, merekalah yang kita sebut kekanak-kanakan.

Dari sini kita mulai belajar bahwa waktu terus berputar ke depan, tanpa peduli apa yang sudah ia tinggalkan. Kita mulai merasa semakin memiliki kewajiban yang bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk keberlangsungan hidup manusia lain. Tapi, ego diri juga meningkat dan keinginan mencari jati diri semakin kuat (semacam apakah saya keturunan Siluman Babi ataukah saya punya kekuatan gaib seperti Power Ranger). Kita juga belajar apa yang kita sebut sebagai proses eksplorasi dan eksperimen sampai kita mengetahui percobaan mana yang memberikan hasil terbaik bagi kita. Kita mulai belajar tentang peng-eksklusif-an diri, misalnya dalam jurusan kuliah, dalam memilih kekasih, dsb. Mungkin kita sudah tahu bahwa Tuhan menciptakan Adam atau Hawa untuk kita di dunia.

Lalu, fase dewasa, fase terkompleks dalam hidup tapi juga fase termembosankan. Setelah menentukan pilihan dalam fase sebelumnya, kita akan menuai hasilnya di sini, mungkin hidup berputar-putar dalam lingkaran setan atau hidup seperti layangan yang entah dibawa angin ke mana. Di sini, semua otak kita diperas untuk memikirkan banyak hal yang sebenarnya tak begitu perlu dipikirkan.

Tapi, ada hal indah yang mungkin bisa dilakukan di sini, bermimpi dan berusaha mewujudkan mimpi. Kita mungkin sudah belajar untuk bermimpi sejak kanak, menjadi Cinderella yang dinikahi pangeran tampan atau menjadi Jason, si Power Ranger merah. Tapi, mimpi di sini beda, banyak mimpi dalam realita dan yang utama, berusaha mewujudkan semua mimpi yang ada.

Yang sering terjadi? Kelebihan mimpi dan/atau kekurangan usaha (I've often feel this thing, but unfortunately I choose to have more and more dreams with less effort, poor me!) Tapi, tak ada salahnya bermimpi karena mimpi adalah salah satu kekuatan paling kuat di dunia, buah lamunan dari pikiran.

Di sini kita juga mungkin belajar perputaran roda hidup yang sering disalah-artikan sebagai ketidakadilan kehidupan. Mungkin kita seringkali melihat bagaimana orang-orang jahat hidup berkecukupan dan penuh suka, sementara banyak orang baik yang hidup dalam belaian api neraka. Tapi, sudahlah, mungkin saja hukum karma sedang berlaku. Saat semua karma baik mereka berbuah, mereka panen dan ada di atas roda. Sebaliknya, vice versa. Sisi positifnya? Sebenarnya tidak ada manusia yang jahat mutlak di dunia ini, syukurilah itu.

Lalu, kalau menurut semua Ilmu Biologi, di sini adalah fase terbaik untuk mewujudkan tujuan utama hidup manusia, bereproduksi. Entah kenapa fungsi hidup ini ditekankan secara maksimal, tapi rasanya ini dipengaruhi paham Hitler dan chauvinisme, di mana manusia tidak mau hilang dari peradaban. Padahal, banyak manusia lebih sering menimbulkan kekacauan, bukan? Tapi memang, jika proses ini tidak dilakukan, mungkin siklus hidup ini tidak akan sirkular memutar, tiada prolog, semuanya epilog.

Terakhir, fase tua dan lenyap. Tidak ada yang tahu tentang fase ini, kenapa fase ini ada, kenapa kita harus lenyap jika awalnya kita diciptakan, kenapa kita diciptakan untuk bertahan hanya untuk beberapa waktu tertentu. Tapi rasanya, ini adalah fase istirahat hakiki, di mana kita lelah dengan semua drama dan elegi kehidupan, di mana kita telah selesai menjalankan tugas hidup kita, di mana lilin telah habis sampai ke dasar sumbunya. Semakin kita mencari, semakin membuat kita menyadari, bersyukur adalah hal terbaik untuk menghargai itu semua. Mencari obat anti kelenyapan itu bukan proses seperti membalikkan telapak tangan, mungkin kita butuh lenyap sebelum kita tahu bagaimana agar kita tidak lenyap.

Walaupun dalam kelenyapan, muncul banyak fokus-fokus kehidupan baru di dunia ini dengan jalur-jalur dalam peta yang mungkin bisa sama ataupun berbeda dengan yang sudah lenyap sebelumnya. Tapi, seperti kata sinema elektronik di Indonesia, kesamaan itu hanyalah fiktif belaka.

Fase-fase inilah yang membuat hidup kita itu tidak sirkular murni, mungkin bentuknya iregular seperti Entamoeba histolytica, dengan rambut-rambut getar di sekelilingnya. Fase hidup kita tak seperti Siklus Krebs atau siklus biokimia lainnya, yang memutar-mutar selama ada pasokan bahan utamanya. Beginilah hidup, yang harusnya saya (dan mungkin kita) syukuri setiap harinya. Walaupun dengan problema yang ada, rasanya hidup tak lengkap dan tak sempurna tanpa ada drama. Tapi, semakin banyak drama yang kita buat, semakin banyak tenaga yang harus kita produksi, untuk mengimbangi semua goncangan-goncangan dalam hidup.

Akhirnya, berpikir positif mungkin bisa menjadi andalan karena kita tahu loncatan listrik dalam otak itulah yang memberikan tenaga dalam hidup kita, seperti generator yang digerakkan oleh aliran air terjun untuk menghidupi ribuan warga desa.

Entahlah, ini hanya kontemplasi belaka dari seorang manusia.


Ditulis dalam kebimbangan dan kegundahan akan hidup dalam berbagai aspek kehidupan,
Dipengaruhi oleh rotasi ilmu kesehatan perempuan dalam kerja klinik,

Eka Satya Nugraha