December 9, 2014

Bahagia itu Sederhana

Bahagia itu sederhana,
Sesederhana kita tak perlu memikirkan apa yang orang pikirkan tentang kita
Sesederhana kita sadar kalau kita tak mungkin bisa membahagiakan semua orang
Sesederhana saya bisa nonton bioskop sendirian
Sesederhana saya bisa tidur cukup di tengah-tengah himpitan jadwal jaga malam
Sesederhana kita bisa membantu satu orang hari ini
Sesederhana kita bisa membuat satu orang tersenyum hari ini
Sesederhana saya bisa melihat orang-orang terkasih hari ini
Sesederhana kita bisa bersyukur atas nikmat hari ini
Sesederhana saya sadar kalau saya masih punya orang tua lengkap, yang harus saya buat bangga
Sesederhana kita masih punya teman di dunia ini, walaupun cuma satu, yang penting tulus

Sesederhana....
Kita menciptakan pikiran bahagia itu di dalam pikiran kita.

Bahagia itu bukan datang dari luar, bukan datang dari barang, uang, harta atau tahta,
Tapi dari dalam diri kita sendiri, dari pikiran, yang membiarkan diri kita untuk mereguk kebahagiaan...

Bahagia itu sederhana,
Sesederhana kita tahu bahwa di balik semua kebahagiaan itu pasti ada sisi menderita
Karena dunia ini penuh fatamorgana

Tapi ternyata, kita tetap bisa bahagia
Sederhana.

October 29, 2014

Siklus Hidup, bukan Siklus Krebs

Dalam kepercayaan beberapa agama, manusia dikatakan sebagai makhluk ciptaan yang paling tinggi kodratnya, di antara semua makhluk hidup lainnya. Dibentuk secara eksklusif dari peperangan antara berjuta-juta sel sperma, mengarungi asamnya liang vagina, hingga akhirnya hanya satu yang mampu menembus lapisan-lapisan pada sel telur. Dengan kata lain, mereka berjodoh dalam lika-liku beratnya persaingan "cinta".

Setelah proses pembuahan ini terjadi, kedua sel ini berpadu, membagi bawaannya sama besar, menumbuhkannya dengan cinta, membelah diri mereka dan akhirnya terbentuklah seonggok janin yang tertanam dalam rahim sang perempuan, tempat perpagutan asmara itu terjadi.

Janin ini dalam perjalanannya terbentuk begitu unik dan hebatnya, ia sebenarnya adalah jaringan asing (re: parasit) bagi tubuh sang inang, tapi tak serta-merta dibunuh layaknya Mpu Gandring yang dibunuh dengan keris buatannya sendiri. Dengan mempengaruhi pula kerja tubuh sang ibu, ia menyerap semua yang dicerna oleh sang ibu dan memulai semua proses perkembangannya selama 38-40 minggu dalam kolam ketuban, berenang-renang. Jadi, tak heran bila orang-orang berkata, "Surga ada di bawah telapak kaki ibu..." Karena pada awalnya, kita sudah berada jauh di atas surga, di dalam pelukan rahim ibu saat semua yang kita butuhkan tersedia di sana.

Setelah ia lahir dengan susah payah, baik dengan eranan sang ibu ataupun sayatan pisau operasi, parasit ini seperti kado yang indah buat semua perempuan di dunia, melebihi semua pesta sweet seventeen yang dilaksanakan saat sekolah menengah dulu, kemudian kita menyebutnya bayi, prolog kehidupan manusia di dunia luar.

Dari sini, kita belajar betapa sulitnya mencari kebutuhan (baru kemudian pada saat dewasa kita belajar ada yang namanya toserba atau toko serba ada, yang sebenarnya tidak lengkap karena jodoh tak dijual di sana) di luar kolam ketuban. Kita harus mencari puting susu ibu untuk sekedar mengenyangkan perut dan meminta kekebalan tubuh (Bukan! Bukan Ilmu Debus seperti yang kita tahu di Banten). Dari sini pula, kita belajar bahwa hidup kita tak akan mudah, Bung! Perlu usaha untuk menggapai segalanya dan ada saatnya kita menangis karena tak semua yang kita butuhkan bisa kita dapatkan.

Bila kita renungkan, mungkin ini adalah fase kehidupan paling primitif yang pernah kita rasakan. Tapi, fase hidup ini adalah fase ketenangan hakiki, saat ego diri merupakan tujuan utama dalam hidup. Senang saat kenyang dan sendu saat syahdu.

Jadi, apakah bukan berarti saat kita menjunjung ego diri, kita akan berbahagia secara paripurna? Jawabannya, bisa ya, bisa tidak.

Dulu, kita mungkin bisa egois lahir batin karena semua perhatian tertuju pada kita dan tak banyak kewajiban yang kita lakukan untuk semua hak yang kita dapatkan. Tapi, seiring berjalannya kehidupan, kita mungkin mengenal namanya keadilan dan keseimbangan. Di mana jumlah atau bentuk hak yang kita dapatkan, sesuai dengan usaha dan kewajiban yang telah kita lakukan.

Setelah fase ini, kita mulai disusupi dengan semua paham yang mampu membuat sinaps-sinaps otak kita berkembang, membuat jembatan-jembatan antara satu sama lain untuk mengirimkan loncatan listrik dalam sel otak kita (mungkin ini sebabnya kenapa pikiran selalu menjadi sumber kekuatan dan juga masalah bagi kita, terlalu sering berloncatan dan terlalu cepat bekerja). Kita mengenal sekolah dan kursus, kita mengenal teman, kita mengenal musuh, kita mungkin juga mengenal cinta. Kita mulai mengetahui bahwa, "Hey, bukan kamu saja yang ada di dunia ini! You're not the only special one..."

Di sini kita belajar apa itu berbagi, tapi kita juga belajar bahwa tak semua orang mampu berbagi. Tak semua orang bisa hidup dalam kebersamaan. Rebutan mainan, kolam bola, atau pun sisir Barbie bisa terjadi di sini. Yang menang, senang. Sebaliknya, yang kalah, hidup dalam gundah. Hal tersering setelah itu? Berlari menuju inang utama kita, ibu. Kita sering sebut ini sebagai fase anak-anak.

Selanjutnya, fase remaja, di mana godaan pencarian jati diri layaknya Biksu Tong mencari Kitab Suci ke Barat meluap-luap. Zat aktif bernama hormon mulai bergejolak dan kita mengenal apa itu seksualitas. Cinta bukan lagi hal tabu yang diperbincangkan, tapi hal yang patut kita perjuangkan. Tapi, itu semua bukan hanya tentang bagaimana menegakkan batang kelamin ataupun membasahi semua liang sanggama semata, tapi juga bagaimana kita bisa merasa nyaman bila ada di dekat orang yang kita cinta, selain ibu dan ayah.

Kelainan yang sering terjadi di sini? Manusia-manusia yang masih terlalu nyaman untuk melepas fase hidup sebelumnya, mereka masih mau menjadi primadona bagi lingkungannya, masih mengedepankan egonya, merekalah yang kita sebut kekanak-kanakan.

Dari sini kita mulai belajar bahwa waktu terus berputar ke depan, tanpa peduli apa yang sudah ia tinggalkan. Kita mulai merasa semakin memiliki kewajiban yang bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk keberlangsungan hidup manusia lain. Tapi, ego diri juga meningkat dan keinginan mencari jati diri semakin kuat (semacam apakah saya keturunan Siluman Babi ataukah saya punya kekuatan gaib seperti Power Ranger). Kita juga belajar apa yang kita sebut sebagai proses eksplorasi dan eksperimen sampai kita mengetahui percobaan mana yang memberikan hasil terbaik bagi kita. Kita mulai belajar tentang peng-eksklusif-an diri, misalnya dalam jurusan kuliah, dalam memilih kekasih, dsb. Mungkin kita sudah tahu bahwa Tuhan menciptakan Adam atau Hawa untuk kita di dunia.

Lalu, fase dewasa, fase terkompleks dalam hidup tapi juga fase termembosankan. Setelah menentukan pilihan dalam fase sebelumnya, kita akan menuai hasilnya di sini, mungkin hidup berputar-putar dalam lingkaran setan atau hidup seperti layangan yang entah dibawa angin ke mana. Di sini, semua otak kita diperas untuk memikirkan banyak hal yang sebenarnya tak begitu perlu dipikirkan.

Tapi, ada hal indah yang mungkin bisa dilakukan di sini, bermimpi dan berusaha mewujudkan mimpi. Kita mungkin sudah belajar untuk bermimpi sejak kanak, menjadi Cinderella yang dinikahi pangeran tampan atau menjadi Jason, si Power Ranger merah. Tapi, mimpi di sini beda, banyak mimpi dalam realita dan yang utama, berusaha mewujudkan semua mimpi yang ada.

Yang sering terjadi? Kelebihan mimpi dan/atau kekurangan usaha (I've often feel this thing, but unfortunately I choose to have more and more dreams with less effort, poor me!) Tapi, tak ada salahnya bermimpi karena mimpi adalah salah satu kekuatan paling kuat di dunia, buah lamunan dari pikiran.

Di sini kita juga mungkin belajar perputaran roda hidup yang sering disalah-artikan sebagai ketidakadilan kehidupan. Mungkin kita seringkali melihat bagaimana orang-orang jahat hidup berkecukupan dan penuh suka, sementara banyak orang baik yang hidup dalam belaian api neraka. Tapi, sudahlah, mungkin saja hukum karma sedang berlaku. Saat semua karma baik mereka berbuah, mereka panen dan ada di atas roda. Sebaliknya, vice versa. Sisi positifnya? Sebenarnya tidak ada manusia yang jahat mutlak di dunia ini, syukurilah itu.

Lalu, kalau menurut semua Ilmu Biologi, di sini adalah fase terbaik untuk mewujudkan tujuan utama hidup manusia, bereproduksi. Entah kenapa fungsi hidup ini ditekankan secara maksimal, tapi rasanya ini dipengaruhi paham Hitler dan chauvinisme, di mana manusia tidak mau hilang dari peradaban. Padahal, banyak manusia lebih sering menimbulkan kekacauan, bukan? Tapi memang, jika proses ini tidak dilakukan, mungkin siklus hidup ini tidak akan sirkular memutar, tiada prolog, semuanya epilog.

Terakhir, fase tua dan lenyap. Tidak ada yang tahu tentang fase ini, kenapa fase ini ada, kenapa kita harus lenyap jika awalnya kita diciptakan, kenapa kita diciptakan untuk bertahan hanya untuk beberapa waktu tertentu. Tapi rasanya, ini adalah fase istirahat hakiki, di mana kita lelah dengan semua drama dan elegi kehidupan, di mana kita telah selesai menjalankan tugas hidup kita, di mana lilin telah habis sampai ke dasar sumbunya. Semakin kita mencari, semakin membuat kita menyadari, bersyukur adalah hal terbaik untuk menghargai itu semua. Mencari obat anti kelenyapan itu bukan proses seperti membalikkan telapak tangan, mungkin kita butuh lenyap sebelum kita tahu bagaimana agar kita tidak lenyap.

Walaupun dalam kelenyapan, muncul banyak fokus-fokus kehidupan baru di dunia ini dengan jalur-jalur dalam peta yang mungkin bisa sama ataupun berbeda dengan yang sudah lenyap sebelumnya. Tapi, seperti kata sinema elektronik di Indonesia, kesamaan itu hanyalah fiktif belaka.

Fase-fase inilah yang membuat hidup kita itu tidak sirkular murni, mungkin bentuknya iregular seperti Entamoeba histolytica, dengan rambut-rambut getar di sekelilingnya. Fase hidup kita tak seperti Siklus Krebs atau siklus biokimia lainnya, yang memutar-mutar selama ada pasokan bahan utamanya. Beginilah hidup, yang harusnya saya (dan mungkin kita) syukuri setiap harinya. Walaupun dengan problema yang ada, rasanya hidup tak lengkap dan tak sempurna tanpa ada drama. Tapi, semakin banyak drama yang kita buat, semakin banyak tenaga yang harus kita produksi, untuk mengimbangi semua goncangan-goncangan dalam hidup.

Akhirnya, berpikir positif mungkin bisa menjadi andalan karena kita tahu loncatan listrik dalam otak itulah yang memberikan tenaga dalam hidup kita, seperti generator yang digerakkan oleh aliran air terjun untuk menghidupi ribuan warga desa.

Entahlah, ini hanya kontemplasi belaka dari seorang manusia.


Ditulis dalam kebimbangan dan kegundahan akan hidup dalam berbagai aspek kehidupan,
Dipengaruhi oleh rotasi ilmu kesehatan perempuan dalam kerja klinik,

Eka Satya Nugraha

July 14, 2014

Cinta? Tuhan?

Hey, bloggie! Long long long time no see... Haha, rasanya sudah sekian abad lamanya gak menyentuh blog ini and I miss it for sure...

Sebenarnya sih lagi gak ada ilham buat nulis apa-apa di sini, tapi kebetulan beberapa hari terakhir ini lagi baca buku dan semalam ketemu satu bagian yang bagus, jadi sepertinya sayang kalau gak dibagi-bagi di blog :)

Bukunya buku lama sih, berjudul Madre, karyanya Dee. Buku yang diterbitkan kira-kira tahun 2011 ini berisikan tigabelas prosa ataupun puisi dari Dee dan sudah tersimpan penuh debu di meja belajar sejak saya beli.

Cerita utamanya berkisah tentang Madre, sebuah adonan biang roti sourdough yang menjadi Ibu bagi roti-roti dari sebuah toko roti tua, Tan de Bekker... Cerita ini berkisah tentang sebuah asimilasi unik dari kultur masyarakat yang tertuang secara ajaib dan penuh kejutan tanpa prolog, tapi sedikit banyak menghadirkan akhir yang bahagia, saat kita bisa menerimanya dengan lapang dada. Tapi, bukan cerita ini yang menggelitik sukma saya kemarin malam...

Ada sebuah prosa pendek, berjudul Semangkuk Acar untuk Cinta dan Tuhan, yang dibuat tahun 2007. Kisah ini nampaknya sebuah refleksi yang dialami Dee sendiri, saat ia di-bombardir dua pertanyaan klise, "Apa itu cinta?" dan "Apa itu Tuhan?"

Dikisahkan kalau tokoh cerita ini sempat menjelaskan jawaban dua pertanyaan itu dengan sensasional dan memukau audiens yang melihatnya, tapi ia pun kembali terpaku saat seorang wartawan kembali mempertanyakan dua tanya ini.

Alhasil, sang tokoh mencoba cara jawab baru dengan melibatkan si penanya, dengan teknik mengupas bawang merah dari semangkuk acar setelah memberikan prolog bahwa jika ingin tahu tentang apa itu Tuhan, kita perlu tahu apa itu cinta dan saat kita tahu apa itu Tuhan, kita pun dengan sendirinya tahu apa itu cinta, mereka bisa diungkapkan bersamaan, sekaligus.

Dan inilah jawaban kedua pertanyaan itu, menurut kisah ini:

Setelah sesi mengupas bawang merah dengan kuku selesai, dengan berlinangan air mata, yang jatuh bukan karena duka atau suka, sang tokoh berkata,

"Inilah cinta, inilah Tuhan. Tangan kita bau menyengat, mata kita perih seperti disengat, dan tetap kita tidak menggenggam apa-apa."

Sambil terisak, yang bukan karena haru bahagia atau haru nelangsa, sang tokoh pun berujar kembali,

"Itulah cinta, itulah Tuhan. Pengalaman, bukan penjelasan. Perjalanan, bukan tujuan. Pertanyaan, yang sungguh tidak berjodoh dengan segala jawaban."

Dan kemudian, wartawan itu meng-konversi-kan jawaban itu menjadi ilustrasi semangkuk acar bawang dalam majalah tempat Ia bekerja dan orang2 pun mengira bahwa bawang itulah perlambang cinta, seperti afrodisiak, untuk memperlancar hubungan bercinta...

Bagi saya, ilustrasi kisah ini sangat mengena, saat saya harus dihadapkan pada pertanyaan yang sama, entah karena saya belum pernah menemukan cinta atau karena saya belum pernah bertemu Tuhan. Namun, dengan jawaban ini, bukan berarti pula saya tak percaya dengan adanya cinta ataupun dengan adanya Tuhan, di dunia.

Bagaimana dengan kamu?

Selamat malam dan selamat berkontemplasi. Selamat mencari apa makna cinta dan apa makna Tuhan, bagimu :)

July 16, 2013

Adieu?

-Tulisan ini akan dibuat dalam bahasa Indonesia saja ya :)-

Jadi, mengapa judul tulisan ini Adieu?
Adieu dalam bahasa Perancis bermakna perpisahan.

Bukan, tulisan ini bukan sebuah tanda perpisahan, malah mungkin ini adalah sebuah tanda pembaharuan, revolusi (atau mungkin evolusi) diri saya dalam menulis? Semoga.

Sesungguhnya tulisan ini bermula dari sebuah memori acak di otak saya tentang kicauan saya di media sosial Twitter, bunyinya kira-kira begini:

"Untuk apa kita bertemu, kalau pada akhirnya kita akan terpisahkan..." #randomthought

Kalau tak salah ingat, pikiran ini muncul saat saya sedang berada di kamar mandi (yup, kamar mandi memang tempat merenung paling maksimal so far),
setelah beberapa kali saya menyaksikan perpisahan dari dua atau lebih orang yang saling mencintai (bukan hanya pacar atau pasangan, tapi juga orang tua dan sebagainya)

Saat itu, saya belum punya jawaban rasionalisasi atas pernyataan retoris random otak ini.
Saat itu, secara naif, mungkin saya lebih banyak menyalahkan siklus hidup dan rentang waktu, yang tanpa tedeng aling-aling bisa mengambil paksa jiwa raga seseorang yang kita sayangi.

Yah, saat itu.

Setelah terjadi lompatan dan lecutan dimensi dalam beberapa bulan (#lebay), semakin banyak kisah yang masuk ke bagian girus otak yang mengatur kendali berpikir dan juga memori saya (entah apa namanya)

Beberapa kisah, dimulai dari kisah picisan dalam sinema elektronik, kisah angan-angan pikiran saya tentang kehilangan, kisah Cory Monteith dan Lea Michele (so sad for them, really) hingga kisah sedih dari teman saya yang harus kehilangan ayahnya.

Di sini, lagi-lagi pikiran itu muncul, "untuk apa kita bertemu jika akhirnya harus dipisahkan?"

Melihat kicauan seorang anak perempuan yang mencoba struggling dari keadaan kehilangan, berpisah
Bukan sebuah hal yang mudah, percayalah.

Permintaannya untuk kembali ke waktu lampau, keinginan besarnya untuk bertemu lagi (walau mungkin kita tahu bahwa semua akan berpisah lagi) dan juga pergulatannya untuk menerima dan bersikap positif akan kehilangannya.

Semua itu mengaduk otak saya ini untuk mencoba menyimpulkan jawaban rasionalisasi atas pernyataan retorik itu.

Logikanya, dunia ini, hidup ini semuanya fana, tidak kekal.
Tidak ada yang bisa kita bawa, kaum manusia, dari awal proses fertilisasi kita hingga proses dekomposisi protein tubuh ini.

Begitu pula sebuah perjumpaan, pasti harus kita akhiri dengan adieu, oleh karena keharusan atau karena waktu.

Dari semua prolog yang ada di atas, akhirnya ada beberapa jawaban ngeyel dan ngelantur yang terpikirkan:
  1. Berpisah itu mengajarkan kita arti keikhlasan, menerima dan menyadari bahwa hidup itu sementara dan tidak kekal adanya
  2. Berpisah setidaknya menahan kita untuk tidak terlalu terkekang dengan keduniawian cinta?
  3. Berpisah menandakan sebuah akhir dan mungkin juga sebuah awal untuk pertemuan baru (yah, walaupun ini terlihat seperti siklus setan)
  4. Berpisah itu setidaknya menyadarkan kita untuk selalu bersikap baik, menghargai, mencintai dan menyayangi orang terdekat kita karena tak ada yang tahu kapan waktu akan memisahkan kita
  5. Berpisah itu membuat kita menghargai sang waktu?
  6. Berpisah itu bertemu yang tertunda?!
  7. Berpisah itu menguatkan kita akan akibat proses kehilangan karena berpisah bisa menimbulkan sensasi nyeri yang amat sangat
  8. Berpisah itu kadang bukan berarti kita tidak bertemu lagi, walau memang paling sering kita tidak akan bertemu lagi (atau kalau menurut berbagai sinetron dan sebagainya, kita bisa bertemu lagi di Surga ataupun Neraka, terserah kita)
Ya, kalau menurut saya, berpisah itu sebuah proses indah, bagian dari siklus hidup yang mau tak mau harus kita alami nantinya.
Kita mungkin akan berkompetisi dengan waktu dan diri sendiri.

Menghindari perpisahan? Rasanya sulit dan cenderung tak mungkin.
Mempersiapkan perpisahan? Tentu, inilah yang harus kita lakukan.

Seburuk-buruknya perpisahan itu,
There's a good in goodbye, but there's a hell in hello.

Beranikah kita untuk menghadapi perpisahan? Sudah layak dan sepantasnya.
Sudah siapkah kita menemui situasi berpisah? Tak ada yang tahu jawabnya.

Adieu!

June 24, 2013

Setapak Sriwedari

Mungkin benar adanya kalimat, "Waktu yang kan' menjawab..."
Haha, awalnya saat mendengar lagu ini, gue hanya terdiam sambil bertanya-tanya, "Apa maknanya?", "Apa enaknya?"

Tapi, lambat laun, seiring berjalannya waktu, nampakanya suatu saat saya akan berkunjung ke Taman Sriwedari sambil menapaki jalan hidup dan mungkin bertemu cinta atau bersama dengan cinta (di sana), di bawah persetujuan alam #yeslangsunggalauseketika

Tanpa berpanjang lebar, selamat menikmati alunan lagu yang diambil dari album terbaru Maliq & D'Essentials, Sriwedari (2013)

Setapak Sriwedari
Maliq & D'Essentials (2013)


Lihat langit di atas selepas hujan reda 
Dan kau lihat pelangi 
Seperti kau di sini hadirkan sriwedari 
Dalam suka duniawi

Dan kita berpijak lalu 
Kau merasakan yang sama sepertiku

Suara hati kita bergema melantunkan nada-nada 
Melagu tanpa berkata seperti syair tak beraksara

Lihat fajar merona memandangi kita 
Seakan tahu cerita 
Tentang semua rasa yang ingin kita bawa 
Tanpa ada rahasia

Dan kita melangkah untuk 
Lebih jauh lagi, lebih jauh lagi

Suara hati kita bergema melantunkan nada-nada 
Melagu tanpa berkata seperti syair tak beraksara

Setapak di taman sriwedari 
Setapak sriwedari denganmu

Dan kita berpijak lalu
Dan kita melangkah untuk 
Lebih jauh lagi, lebih jauh lagi

Suara hati kita bergema melantunkan nada-nada 
Melagu tanpa berkata 
Irama hati kita bernada,merayu tanpa bicara
Melagu tanpa berkata seperti syair tak beraksara 
Seperti puisi tanpa rima, seperti itu aku padamu

(Setapak di taman sriwedari) seperti itu aku padamu 
(Setapak sriwedari denganmu) seperti itu aku padamu

Courtesy: Lirik Kapanlagi.com

May 12, 2013

If Only Your Life is A Computer?!

What if your life is like a computer, which can be arranged "easily" by clicking the mouse buttons or pressing a remote like in "Click"?
What will you do if this really happens to your life?

Deleting your bad memories, sins, sadness or any other negative things to the Recycle Bin? (And you can easily restore them anytime [if you want] or delete them forever)
Copying your great memories and paste them everywhere you want in your path of life?
Finding easily every single positive thing in your life by simply pressing Ctrl+F?
Opening new layer of life by pressing a shortcut Ctrl+N?
Cutting all people whom you want to be cut and letting them being rotten in the Clipboard?
Or cutting all sad points in your life and wishing they won't be come back?
Searching for any kind of helps in the Help & Support Center?
Arranging your life by using all those properties in Control Panel?
Exiting from your life by pressing Esc or Alt+F4?

Unfortunately, your life isn't a computer... Computer is made by human-being to be sly enough to "trick" all problems in life...
And your life? It's God's made. What a pity that when He creates you and your life, He haven't found Charles Babbage (person who create the concept of first mechanical computer), Bill Gates and the others as one of His best friends.

So sorry... :')
Yet, in the end of the story, you only live once, never regret about what has happened in your life.
Plus, don't be worry too much for what will happen in future, later...

Cheers!

April 18, 2013

Sketch(es) are so FUN! :)

So, this is the first time, I put some pictures as a posting in the blog! #poorme #screwme
Anyway, I can re-feel my passion again in doing some artworks, sketches or "corat-coret", rather on a pice of paper or on my iPad! *yeay*

Okay, there are just 4 pictures that I draw recently, but hopefully, I can draw more and more, plus with many kinds of media... :')

So, please enjoy!

So, this is my first sketch on an iPad :)

An abstract sketch in a boring time

Artwork that I made from day and night :D

My latest sketch on a piece of paper by a bolpoint in a "boring" lecture

#sketchesaresofun
Hope you enjoy it, people! :)

"The purpose of art is washing the dust of daily life off our souls..."     -Pablo Picasso-

April 16, 2013

Sorry :')

I don't know why I want to make this post in the blog,
but during this day, I just have a bad feeling of myself
and also feel so bad for myself till the time I write the post

So, with all sincerity in my heart,

I just wanna say I'm sorry...

(I know, even Elton John said that sorry seems to be the hardest word or may be you can think that I'm so hypocrite to say sorry so many times without any feelings on it)

But, I'm just so relieved that I can say this word (before it's too late or never) for you, people that have been around me till this time...

For my parent,
I'm sorry that I haven't been an amazing son for you,
I'm sorry for making you mad, hurt or even worried so much
I'm sorry for being 'kiddos' in my age now :')

For my sister,
I'm sorry for annoying you so many times,
I'm sorry for making you nearly late every morning (to school),
I'm sorry for my incompetence for protecting you like a good brother :')

For my friends,
I'm sorry if I often make you hurt by my sayings, actions or anything else,
I'm sorry for making so many promises, but I can't fulfill it,
I'm sorry for my bad characters that may annoy you so much,
I'm sorry cause I haven't been a good friend for you :')

For all people around me,
I'm sorry cause I still can't return all of your kindness for me,
I'm sorry for any kind of small mistakes that I've ever made,
I'm sorry if I haven't been a good and positive surrounding for you :')

At last,
For myself,
I'm sorry cause I'm often dishonest to you,
I'm sorry for letting you tired, sick and sentimental,
I'm sorry if I haven't been my own self and never heard your voice,
I'm sorry for all of these imperfections :')

Sorry and I hope you can forgive me with all kind of suck things
That's all....

If you get my bad point and you're annoyed for that, please don't be hesitate to criticize, yell at me or even worse (you may kick me, punch me or slap me), just to make me conscious about it :)

"The stupid neither forgive nor forget; the naive forgive and forget; the wise forgive but do not forget."     -Thomas Stephen Szasz-


#randompostatnight

April 7, 2013

What Buddha's Said?!

"Do not believe in anything simply because you have heard it."
"Do not believe in anything simply because it is spoken and rumored by many."
"Do not believe in anything simply because it is found written in your religious books."
"Do not believe in anything merely on the authority of your teachers and elders."
"Do not believe in traditions because they have been handed down for many generations."
 
"But after observation and analysis, when you find that anything agrees with reason and is conducive to the good and benefit of one and all, then accept it and live up to it."
 
-Prince Siddhartha Gautama (Buddha Gautama)-

March 26, 2013

This is Where My Story Begins...

- This post is dedicated to FKUI 2010! -

So, this is the beginning...
A beginning of a journey that I call as life
A journey that I haven't known yet
Where will it be ended?

But, what I know is
That I have the map, compass and the route
To get and achieve what I will get
At the end of the road...

No matter what
I still don't get into you, pals (till now)
But, realizing...
How many upside-downs that we've been through
How many calories we've used for laughing, or
How many liters of tears when we cry

Just be grateful to be with you, guys
And so thankful that I'm not alone at the crossroads
(just like Beyonce has done in Listen)

"I'm so thankful that I have you in this amazingly-speechless three years..."

At last, I hope this beginning has a great end
A greatest end that maybe
Will be an adventurous journey for us
For being a health fighter
For being real ourselves
For a better human being...

"Thanks for occupying a puzzle piece in my life..."

"Jadi, siapa di antara kita yang sudah pakai Rinso?!"


March 17, 2013

Titanium Partial

Hey, you! Yes, you! Over there!

This is for you!

I'm bulletproof, nothing to lose..
Just fire away, yes, fire away!
Get your richochet and take your aim,
Fire away, don't be afraid!

You'll shoot me down, but I won't fall
(do it and you'll see it)
(I'm not a silver, gold or aluminum)
 
I am titanium....
Yes, I'm titanium and I'm hard to be fallen..

Of course, by you, people!


-Just a saying to myself-
(A modification of David Guetta's Titanium)

February 20, 2013

Berubah Tak Ubahnya Perubahan

Oke, jangan sakit kepala dengan judul aneh hari ini karena saya pun tak paham betul dengan maksud jari-jari montok lentik saya ini bertualang di atas papankunci (re: keyboard)...

Lalu, situasi yang muncul adalah entah kenapa saya selalu ingin membicarakan hal ini sejak beberapa hari terakhir, rasanya kata-kata ini muncul menyeruak sukma dan mencakar raga (hiperbola). Yap, beberapa hari terakhir ini, mungkin sejak saya mengerjakan tes psikometri Sabtu lalu atau mungkin sejak acara Pemilihan Putri Indonesia 2012-2013 lalu, di mana saat final, sang pemenang mendapatkan pertanyaan tentang perubahan dan boleh dikata, saya terkesan dengan maksud jawabannya, walaupun buruk dalam penyampaiannya.

Menurut saya, kata ajaib ini tak akan pernah hilang eksistensinya di dunia ini dan secara lahiriah serta batiniah, kata ini tak pelak lagi, tak dapat dihindari kejadiannya.

Di sisi lain, orang-orang sering menyebut kata ini dibarengi dengan fakta bahwa dunia ini relatif dan tak ada yang absolut (saat suatu hal dibandingkan dengan hal lainnya).

The simple statement is perubahan itu yah perubahan itu sendiri....

Dulu, saya mendengar kata-kata ini di televisi, mungkin saat Jason mau jadi Ranger Merah di Power Ranger atau Tatsuya (Oke, ini super ngarang) pas mau jadi Kamen Rider. Fixed, aneh.

Tapi, makin ke sini, ternyata berubah atau perubahan itu tidak sesederhana itu. Berubah itu dapat menyebabkan gangguan jiwa, gangguan janin, komplikasi perdarahan kronis dan serangan jantung (percaya aja deh).
Memang, perubahan yang positif mungkin bisa saja menuju kebaikan dan perubahan negatif jelas membuat kita terkena amukan, tapi yang pasti dari perubahan ini, manusia (dengan kemampuan iritabilitanya) terlalu sensitif terhadap perubahan dan gak selalu bisa menerima perubahan persis seperti ia menerima hadiah uang dan permata atau cinta (#galau).

Nah, kalau menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), berubah itu diartikan sebagai menjadi lain (berbeda) dari semula; bertukar menjadi sesuatu yang lain; atau berganti arah. Sementara itu, perubahan diartikan sebagai hal (keadaan) berubah. Kalau menurut Oxford Dictionary, perubahan (re: change) diartikan menjadi become different.

Hal berubah inilah yang telah membuat saya hidup as a roller coaster; naik, turun, berputar, miring, tapi akhirnya sampai di tujuan akhirnya.

Dan hal berubah inilah yang telah mengajarkan saya bahwa hidup itu tidak pernah konstan-konsisten menyerang, membuai ataupun menyentuh status quo.
Dari hal ini jugalah, saya tahu bahwa tidak semua orang itu menyadari perubahan (saya pun begitu, awalnya) dan bisa menerimanya. Untuk bisa bertahan, seorang manusia jelas harus adaptif terhadap lingkungannya (Darwin has said, "The fittest is the winner")
Dari sini juga, saya sadar (akhirnya) bahwa tidak cuma orang lain yang berubah, tapi diri kita juga. Dan gak bisa seenaknya kita memohon, meminta, memaksa orang untuk berubah jadi sesuai yang kita inginkan. They have their own right on it.

Di sini juga, saya tahu, kalau kita harus bijak menyikapi perubahan. Kalau memang orang lain, tidak mau berubah, mungkin bisa kita mulai dari diri sendiri untuk berubah, mencapai tujuan terakhir kita. Gak mungkin kan kita mengubah hidup kita yang sedih dengan memaksa orang lain menjadi bergembira di sekitar kita, kalau memang kitanya sendiri yang terus-menerus dalam keterpurukan?!

Intinya, tidak ada salahnya untuk berubah kalau memang itu untuk kebaikan.
Tidak ada salahnya juga untuk merubah diri sendiri sebelum kita minta orang lain berubah untuk kita.
Tidak ada salahnya juga untuk berubah status dari single, pacaran, terus putus (kalau kata Peterpan, "Tak ada yang abadi." #galau).
Tidak ada salahnya juga meminta orang untuk berubah menjadi lebih positif, kalau memang diperlukan. Dengan berubah, mereka akan mendapatkan kehidupan yang lebih baik, kok.
Tidak ada salahnya juga untuk menjadi berbeda dari yang biasanya.

Dan tidak ada salahnya, untuk menerima perubahan yang ada karena literally, perubahan itu nyata adanya; yang terpenting adalah bagaimana kita menyikapinya.

Oke, sebelum tulisan ini berubah menjadi tulisan ngalor-ngidul (kayanya, sudah dari tadi sih), it's better to end this changing words.

So, people, are you ready to change and accept the change?
"If we don't change, we don't grow. If we don't grow, we aren't really living."    -Gail Sheehy-

January 29, 2013

Kesempatan Kedua?!

Entah, di hari yang super duper biasa ini bisa random kepikiran tentang hal ini, what people called as second chance...

Mungkin kita udah sering banget terpapar sama hal-hal yang berhubungan dengan kesempatan kedua ini (ya, kalo nggak, gak mungkin banyak lagu yang pakai frase ini jadi judul, just check lagunya Tangga), misalnya aja:

  • Kesempatan kedua buat pacar yang udah berkhianat baik di sinetron ataupun dunia nyata
  • Kesempatan kedua buat orang-orang yang katanya udah melakukan kejahatan di hidupnya (yah, orang-orang yang mau kena azab terus istilahnya bertobat, atau mungkin mantan narapidana yang dihukum untuk waktu pendek dan bebas, they say they have that second chance moment)
  • Kesempatan kedua buat orang-orang yang nyaris meninggal buat hidup lagi (re: MATI SURI)
  • Kesempatan kedua buat orang-orang yang gagal dalam ujian (re: REMEDIAL)
  • Dan kesempatan-kesempatan kedua lainnya yang ada di dunia ini...
Tapi, dalam administrasi (lame, Eka, lame) dan penggunaan maknanya, kesempatan kedua itu lebih terlihat diberikan buat orang-orang yang notabene udah gagal dalam kesempatan pertama kegiatannya (lebih parah dalam hidupnya)...

Pertanyaan selanjutnya yang muncul di benak gue (super-lame), seberapa pantaskah sebuah kesempatan kedua itu diberikan, sampai batas mana orang layak diberikan kesempatan kedua itu dan seberapa yakin orang itu gak akan jatuh ke lubang yang sama setelah diberikan kesempatan kedua?!

Terus juga, mengapa ada orang yang sepanjang hidupnya gak pernah tuh diberikan kesempatan kedua itu, even dia pernah melakukan kesalahan dalam hidupnya. Contohnya pilot yang melakukan human error pas penerbangannya, the result? Dia dan penumpang yang dibawanya tewas tanpa pernah hidup lagi untuk dapat kesempatan kedua kan?

Terus juga, kalau ada kesempatan kedua ini, sampai kapan dan batas apa orang itu bisa gagal dalam hidupnya? Even, orang-orang bilang, dari kegagalan itu kita bisa belajar kesuksesan, tapi kalau gagal terus juga kapan suksesnya? Atau mungkin karena itu yah, frase yang lebih terkenal itu "KESEMPATAN KEDUA", bukan kesempatan ketiga, keempat, kelima dan seterusnya?

But, somehow, mungkin Tuhan super adil yah? Kalau aja hidup kita tuh bisa di-pause dan restart like a video game, butuh waktu lama untuk bisa tamatin levelnya. Atau, kalau pun hidup kita itu udah ada kumpulan cheat-nya di Google, gak mungkin juga ada orang yang bisa menginspirasi satu sama lain untuk belajar biar gak gagal ataupun bisa bangkit dari kegagalan? Life won't be so interesting, will it? #staypositive

Tapi, tetap aja, walaupun hidup udah menarik kaya gini, banyak orang tuh yang gak mau punya kesempatan kedua lagi dalam hidupnya dan have a suicide, berharap semua masalahnya selesai begitu aja... Don't they think maybe they will get the second chance in another life cycle?

Yang pasti, buat orang-orang yang udah pernah dapat that second chance, jangan disia-siakan, banyak orang yang gak pernah dapat hal itu dan mereka menyesal, life is not a video game, people, right?

"Livin' not in the past, livin' not for the future, but just enjoy and do your best in your present life...
Past maybe can give you memories and future can only give you unpredictable situation, but present life? It can give you joy, sadness and all that you have to get for grabbing the unpredictable future and keeping the past as memories."

*udah ah ngelantur malam-malamnya* :)

Adios, people!

January 25, 2013

Prologue or Epilogue?!

Just a first greeting in 2013 so far from me!
Don't have any eagerness to write,
just randomly think....


"Can we begin or start something with a new one, when vintage things and oldies are more eternal and memorable than the future?"

"Or maybe just because the old things have given you memories than unpredictable future..."


I don't know either, just my random thought...

#hello2013

December 30, 2012

Meniup Debu

Haha, bukan judul yang indah memang untuk membuka kembali blog ini setelah sekian lama ditinggalkan, atau lebih tepatnya dionggokan?

Bukan juga terpengaruh lagu "Butiran Debu"-nya Rumor...
Tapi, entah mengapa, kangen banget untuk setidaknya menekan-nekan keyboard komputer jinjing ini, bercerita pada entah siapa, tapi setidaknya melegakan secuil tahanan rasa...

Oke, jujur, gue bukan seorang penulis yang baik, gue itu bukan Andrea Hirata yang pergi menatap dunia dengan "Laskar Pelangi"-nya, bukan juga Paulo Coelho yang mampu mendayukan semua orang dengan tumpahan idenya, apalagi Shakespeare....

(kembali meniup debu, debu tebal yang menutupi blog ini)

Simple, gue kangen, rindu, penuh hasrat untuk sekedar menulis, entah, walaupun ngalor-ngidul, tapi saat menulis ini, gue merasa my now moment is magically wonderful...

Di dua hari terakhir dari tahun 2012 ini, tahun yang menurut gue indah, ajaib, sesak, luluh lantak, dan tetap saja penuh misteri ini, akhirnya, randomly, gue buka lagi blog ini...

(hening sejenak)

Mungkin, ada baiknya, gue menyampaikan terima kasih sepertinya, untuk orang-orang yang mungkin pernah, sedang, atau akan membuka blog ini, baik kalian sengaja ataupun terperangkap oleh layanan internet kalian,  just wanna say thank you...
Juga, maaf jika memang blog ini tidak terurus, tidak bisa memenuhi hasrat membaca kalian ataupun isinya penuh sampah-sampah perasaan yang bertebaran dan berserakan,
karena sudah gue ungkapkan di atas, gue bukan penulis yang spesial, tapi mudah-mudahan saja akan...

(hening lagi)

Somehow, gue sangat tersentuh dengan tagline dari Soundcloud, "Hear the world's sounds", menurut gue bagus, indah aja kalau sebuah website itu memang bisa memperdengarkan suara seluruh isi sesak bumi ini ke seluruh penyesaknya... Mudah-mudahan, blog ini pun begitu, menjadi kotak musik dari isi hati gue ataupun isi pikiran gue, makhluk paling aneh sejagad raya alam semesta...

(now playing Josh Groban-Brave)

Haha, sampah memang, lagi-lagi posting ini ngalor-ngidul, entah kapan gue bisa menulis dengan baik.... (maybe, gue harus mengikuti saran sahabat gue yang nun jauh di sana, jangan pernah menyerah dan melihat tulisan orang lain sebagai referensi, thanks to him...)

Anyway, tahu gak mengapa gue memainkan lagu si Mr. Josh Groban itu berulang-ulang? Haha, jelaslah mana ada yang tau, stupid you, Eka...
Entah, awalnya cuma sekedar membuka Soundcloud tadi, and then terlihatlah si lagu ini, just play it and voila, I love it till now...

Ada beberapa penggalan lirik sih yang gue suka banget dari lagu ini...

"You can hide forever from the thunder... Look into the storm and feel the rain..."

And I also love the chorus, just beautifully touching my deepest part...

"You wanna run away, run away and you say that it can’t be so.
You wanna look away, look away but you stay cause’ it’s all so close.
When you stand uṗ and hold out your hand.
In the face of what I don’t understand.
My reason to be brave.
"
 Ah, sudah cukuplah gue meracau dalam blog ini tanpa tahu arah jalan pulang... Sepertinya, gue gak akan pernah pulang, gak akan pernah kembali ke tempat asal gue,
Sepertinya, gue akan pergi entah ke mana, melanglang buana, mencari tahu apa yang ada di dunia, menebarkan cinta kasih kepada sesama?!

(menghentikan racauan)

Basically, ada 3 hal yang menurut gue sangat sulit untuk dilakukan...
Memulai...
Memilih...
Mengakhiri...

Jadi, kalian tahu kan kenapa posting-posting gue selalu saja buruk dalam awal dan akhirnya... Termasuk posting yang satu ini...

(menutupi blog ini dengan selimut)

Biar debu tak 'kan pernah menghampiri....

November 5, 2012

Sedari Awal

Sedari awal, aku harusnya tahu....
Bahwa yang aku pikirkan selama ini itu salah
Bahwa keputusan yang aku ambil ini salah
Bahwa impianku selama ini salah
Bahwa semuanya itu hanya salah, entah disposisi atau apalah itu....

Tapi,
Semua sudah terlambat
Sudah terlambat untuk menarik semua pikiranku
Terlambat untuk menarik semua keputusanku
Terlambat untuk mengubah semua impianku
Satu hal pasti, yang bisa kulakukan....

Hanya mereposisi semua hidupku, menatanya kembali...
Agar semua sesuai dengan jalurku, keinginanku atau kemauanku
Egois memang,
Tapi, kalau kata sebuah lagu, "Bahagiaku, bahagiamu juga..."
Tak bolehkah aku merenggut kebahagiaanku?
Supaya nanti pun, aku bisa membahagiakanmu, bukan?

Sekarang atau tidak sama sekali
Akulah yang menentukan jalan hidupku sendiri
Akulah yang menjadi navigator arah hidupku

Aku sudah muak untuk selalu mengalah, tanpa arah
Dan menyerahkan semuanya pada orang lain (yang kadang kusebut, "teman")

Sudahlah, penyesalan selalu dan memang akan selalu datang terlambat
Tapi, tak ada guna selalu menyesal
Karena memang semua sudah salah sedari awal....

I will change, just wait and see...

August 28, 2012

Contradictive

Seems, it has been so long that I leave this blog unorganized, untouched... Ashes are everywhere when I open this blog again, today! *okay, too hyperbolic*

Basically, as usual, as always, I don't know what to write here, but my heart just wanna shout his voice out and my brain wants to throw up his entrails.. So, randomly, I just pick the title "Contradictive", don't know why.. Haha.. Okay, I even don't know whether this word is in the dictionary or not, but I just love it...

"Contradictive", for me, it describes me so well, it's just so me.. Maybe cause I'm a Geminian, I can change myself from angel to evil and vice versa, or just like me and my alter ego... Okay, stop talking about myself...

Being a contradictive person is like a trend for now, in this century. You can find it in politics, economics, business, or even just around you, your friend, your parent, or even yourself. Honestly, sometimes, contradictive person can bring you to good position when you're evil along your life, you can change from black side to white side (Okay, it's not like Michael Jackson change his skin color from black to white :p), but sometimes, you can be so sucks until no one wanna have a three seconds chit-chat time with you..

Mentioning examples? You can find them everywhere! You can see politicians before and after they're chosen as a leader. You can see businessman, your partner, before pre and pasca business agreement. You can also see your mommy when she said different things for you just in a second! Or you can see yourself?! For me, just seeing myself is so contradictory! Sometimes I just say something that's so different with my thoughts or my actions... Yeah, I know, it sucks!

Somehow, people see contradictive as one dangerous thing, you can see in health aspect. When you give medication to someone and he/she show the other effect that you don't expect , you have to stop the medication soon and to prevent it, you can have the contraindication part of a receipt.

Another occasion, you can see contradictive as good thing also, such as in fashion.. When you are a fashionista or fashion icon, you can do contradictive style so you can be a trendsetter, of course! Haha, not funny!

But, basically, what I believe is contradictive or not, it depends back on your point of view upon something. So, being a contradictive, sometimes it's okay, whenever you haven't killed or hurt anyone around you. But, stop it when you have made graves for people around you and yourself...

I-don't-know-what-I-write-here! Okay, it's time to end this contradiction! Bye! Adios!


July 24, 2012

Am I Right?!

If only I knew that this would be a great disaster to me..
Would I still take this chance?
Even I have to let all of my friends?

Yes, I have big ego, but somehow, I still can't follow my own ego..
I don't know even this is great or not
To keep thinking of the others whether you still don't know,
"Do they think of you?"

I have the chance now, the chance which I've ever dreamed till last year
But, where are they? Where are they when I need it.
Need support like what they've done for me last year.
Is that only fake support?

I don't know
And I will never know,
Is this right?
Am I right?

Being confused of some new things...

June 30, 2012

Butiran Debu

Halo dunia, haha.. Hari ini akhirnya diriku ini bisa menampakkan diri lagi di dunia per-blog-an.. Hmm, it has been two months! Haha, hari ini cuma lagi pengen berbagi kegalauan dengan yang lain lewat lagu ini, lagu yang luar biasa MENUSUK, MENONJOK, MENOHOK, dan MELELEHKAN GUE!! :D

Tanpa berlama-lama, silakan dinikmati! Bon appetite! :9

Butiran Debu 
Rumor (2012)


Namaku cinta ketika kita bersama
Berbagi rasa untuk selamanya
Namaku cinta ketika kita bersama
Berbagi rasa sepanjang usia

Hingga tiba saatnya aku pun melihat
Cintaku yang khianat, cintaku berkhianat

Aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi
Aku tenggelam dalam lautan luka dalam
Aku tersesat dan tak tahu arah jalan pulang
Aku tanpamu butiran debu

Namaku cinta ketika kita bersama
Berbagi rasa untuk selamanya
Namaku cinta ketika kita bersama
Berbagi rasa sepanjang usia

Hingga tiba saatnya aku pun melihat
Cintaku yang khianat, cintaku berkhianat ooh
Menepi menepilah menjauh
Semua yang terjadi di antara kita ooh

Aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi
Aku tenggelam dalam lautan luka dalam
Aku tersesat dan tak tahu arah jalan pulang
Aku tanpamu butiran debu

(Aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi
ku tenggelam dalam lautan) dalam luka dalam
Aku tersesat dan tak tahu arah jalan pulang
Aku tanpamu butiran debu, aku tanpamu butiran debu
Aku tanpamu butiran debu, aku tanpamu butiran debu

Courtesy: Lirik Kapanlagi.com

April 25, 2012

Bertahan Hidup, Lagi?!

Hampir dua tahun, ya, 24 bulan, 108 minggu, 730 hari, 17.520 jam...
Kala itu, kuingat, betapa bahagianya diriku, ya, kala itu...
Kala itu, rasanya diriku terlalu naif, terlampau silau dengan frase "mereguk asa dan masa depan"
Ya, memang hanya kala itu... Aku tak tahu apa yang akan menjelang di belakang...

Tahun pertama, tahun di mana harusnya aku mengerti "Siapa Aku?" sebenarnya
Tahun-tahun di mana aku masih merasakan semua kebahagiaan semu yang ada
Memang, semua itu tak luput dari intrik, lika-liku, kebohongan, dan kemunafikan
Namun, tampaknya semua itu masih bisa kulalui dengan penuh tangis dan keluh kesah

Adakalanya, aku bisa melupakan semua itu, dengan semua pelarian yang kulakukan
Sayang, hidup itu memang tidak kekal, anicca kata Sang Buddha
Pun itu yang kurasakan, pelarianku hanya berlangsung sementara
Karna setelah itu, aku kembali ke kehidupan, yang selalu kuanggap tak sesuai dengan mauku

Aku, manusia, yang penuh keegoisan, kata "teman-teman"-ku
Pun aku, yang selalu tidak bisa berkata tidak, untuk membantu "teman-teman"-ku
Kontradiksi atau aku yang bodoh?! Entahlah, bagiku, mungkin ini lika-liku hidup
Bukannya aku tak menerima kata itu, EGOIS, tapi tak ada satupun yang menjelaskannya padaku
Di sisi lain, aku melihat banyak yang jauh lebih egois daripada aku...

Atau mungkin bagian ini semakin menegaskan keegoisanku??
Sekali lagi, aku tetap tak tahu....

Tahun kedua, aku bahkan masih belum mengenal diriku
Tapi, aku semakin mengenal karakter lingkunganku
Dan sedihnya, semakin aku mengenal karakter itu, semakin aku tersiksa dalam drama ini
Tapi, aku tak tahu dengan siapa atau pada apa aku bisa berbagi semua ini

Tahun ini, di mana aku masih tetap terbelenggu, tak bisa mendobrak tradisi
Aku yang sesungguhnya kontemporer, terjebak dalam hidup konservatif dan kaku serta penuh arogansi
Aku takut, aku tak bisa mengepakkan sayapku, melanglang buana ke seluruh pelosok dunia
Aku takut bahwa aku selamanya tak bisa terbebas dari jeratan nostalgia
Nostalgia yang terlalu manis, di mana dulu hidupku tak selirih ini

Tak ada yang tahu, hidupku juga penuh stressor-stressor, kerikil-kerikil hidupku sendiri

Yang tak mampu, atau tak berani kuungkapkan pada dunia
Tak heran, semua mengira, aku bahagia secara superfisial, tapi remuk dan lemah pada profundanya
Padahal, aku remuk, retak, patah arang kadang-kadang
Tapi, aku hanya ingin tetap dalam positif,

Apakah mungkin hanya aku yang kurang bersyukur akan hidupku?
Sekali lagi, aku tetap tak tahu... 

Tapi, tetap aku titikberatkan pada kalian, pada seluruh dunia
Bahwa aku tetaplah seorang manusia, bukan malaikat, bukan pula Tuhan
Aku punya ambang batas
Ambang batas kesabaran, ambang batas kesedihan, ambang batas keceriaan
Aku pun bisa marah, menangis, atau tertawa dalam tangis
Salahkah jka aku berharap,

Jika. Aku. Ingin. Bahagia. Sekali. Ini. Saja?!

Kalau  saja ambang batasku sudah terlewati
Mungkin nasibku akan sama seperti glukosa yang kehilangan pembawanya
Terbuang sia-sia dalam buangan tubuh ini
Entah, apa tindakanku nanti? Yang jelas, aku masih punya akal dan tak ingin hanya terbuang sia-sia

Untuk itulah, aku akan tetap bertahan hidup
Menunggu 12 bulan, 54 minggu, 365 hari, 8.760 jam selanjutnya
Dengan penuh harapan
Semoga semuanya akan jauh lebih indah
Dan satu hal,

Aku bisa semakin mensyukuri semua bagian kehidupanku ini....
Semoga...