Hey, bloggie! Long long long time no see... Haha, rasanya sudah sekian abad lamanya gak menyentuh blog ini and I miss it for sure...
Sebenarnya sih lagi gak ada ilham buat nulis apa-apa di sini, tapi kebetulan beberapa hari terakhir ini lagi baca buku dan semalam ketemu satu bagian yang bagus, jadi sepertinya sayang kalau gak dibagi-bagi di blog :)
Bukunya buku lama sih, berjudul Madre, karyanya Dee. Buku yang diterbitkan kira-kira tahun 2011 ini berisikan tigabelas prosa ataupun puisi dari Dee dan sudah tersimpan penuh debu di meja belajar sejak saya beli.
Cerita utamanya berkisah tentang Madre, sebuah adonan biang roti sourdough yang menjadi Ibu bagi roti-roti dari sebuah toko roti tua, Tan de Bekker... Cerita ini berkisah tentang sebuah asimilasi unik dari kultur masyarakat yang tertuang secara ajaib dan penuh kejutan tanpa prolog, tapi sedikit banyak menghadirkan akhir yang bahagia, saat kita bisa menerimanya dengan lapang dada. Tapi, bukan cerita ini yang menggelitik sukma saya kemarin malam...
Ada sebuah prosa pendek, berjudul Semangkuk Acar untuk Cinta dan Tuhan, yang dibuat tahun 2007. Kisah ini nampaknya sebuah refleksi yang dialami Dee sendiri, saat ia di-bombardir dua pertanyaan klise, "Apa itu cinta?" dan "Apa itu Tuhan?"
Dikisahkan kalau tokoh cerita ini sempat menjelaskan jawaban dua pertanyaan itu dengan sensasional dan memukau audiens yang melihatnya, tapi ia pun kembali terpaku saat seorang wartawan kembali mempertanyakan dua tanya ini.
Alhasil, sang tokoh mencoba cara jawab baru dengan melibatkan si penanya, dengan teknik mengupas bawang merah dari semangkuk acar setelah memberikan prolog bahwa jika ingin tahu tentang apa itu Tuhan, kita perlu tahu apa itu cinta dan saat kita tahu apa itu Tuhan, kita pun dengan sendirinya tahu apa itu cinta, mereka bisa diungkapkan bersamaan, sekaligus.
Dan inilah jawaban kedua pertanyaan itu, menurut kisah ini:
Setelah sesi mengupas bawang merah dengan kuku selesai, dengan berlinangan air mata, yang jatuh bukan karena duka atau suka, sang tokoh berkata,
"Inilah cinta, inilah Tuhan. Tangan kita bau menyengat, mata kita perih seperti disengat, dan tetap kita tidak menggenggam apa-apa."
Sambil terisak, yang bukan karena haru bahagia atau haru nelangsa, sang tokoh pun berujar kembali,
"Itulah cinta, itulah Tuhan. Pengalaman, bukan penjelasan. Perjalanan, bukan tujuan. Pertanyaan, yang sungguh tidak berjodoh dengan segala jawaban."
Dan kemudian, wartawan itu meng-konversi-kan jawaban itu menjadi ilustrasi semangkuk acar bawang dalam majalah tempat Ia bekerja dan orang2 pun mengira bahwa bawang itulah perlambang cinta, seperti afrodisiak, untuk memperlancar hubungan bercinta...
Bagi saya, ilustrasi kisah ini sangat mengena, saat saya harus dihadapkan pada pertanyaan yang sama, entah karena saya belum pernah menemukan cinta atau karena saya belum pernah bertemu Tuhan. Namun, dengan jawaban ini, bukan berarti pula saya tak percaya dengan adanya cinta ataupun dengan adanya Tuhan, di dunia.
Bagaimana dengan kamu?
Selamat malam dan selamat berkontemplasi. Selamat mencari apa makna cinta dan apa makna Tuhan, bagimu :)
"People say that I'm cynical, but the fact is I'm naive to what people say and will say."
July 14, 2014
July 16, 2013
Adieu?
-Tulisan ini akan dibuat dalam bahasa Indonesia saja ya :)-
Jadi, mengapa judul tulisan ini Adieu?
Adieu dalam bahasa Perancis bermakna perpisahan.
Bukan, tulisan ini bukan sebuah tanda perpisahan, malah mungkin ini adalah sebuah tanda pembaharuan, revolusi (atau mungkin evolusi) diri saya dalam menulis? Semoga.
Sesungguhnya tulisan ini bermula dari sebuah memori acak di otak saya tentang kicauan saya di media sosial Twitter, bunyinya kira-kira begini:
Kalau tak salah ingat, pikiran ini muncul saat saya sedang berada di kamar mandi (yup, kamar mandi memang tempat merenung paling maksimal so far),
setelah beberapa kali saya menyaksikan perpisahan dari dua atau lebih orang yang saling mencintai (bukan hanya pacar atau pasangan, tapi juga orang tua dan sebagainya)
Saat itu, saya belum punya jawaban rasionalisasi atas pernyataan retoris random otak ini.
Saat itu, secara naif, mungkin saya lebih banyak menyalahkan siklus hidup dan rentang waktu, yang tanpa tedeng aling-aling bisa mengambil paksa jiwa raga seseorang yang kita sayangi.
Yah, saat itu.
Setelah terjadi lompatan dan lecutan dimensi dalam beberapa bulan (#lebay), semakin banyak kisah yang masuk ke bagian girus otak yang mengatur kendali berpikir dan juga memori saya (entah apa namanya)
Beberapa kisah, dimulai dari kisah picisan dalam sinema elektronik, kisah angan-angan pikiran saya tentang kehilangan, kisah Cory Monteith dan Lea Michele (so sad for them, really) hingga kisah sedih dari teman saya yang harus kehilangan ayahnya.
Di sini, lagi-lagi pikiran itu muncul, "untuk apa kita bertemu jika akhirnya harus dipisahkan?"
Melihat kicauan seorang anak perempuan yang mencoba struggling dari keadaan kehilangan, berpisah
Bukan sebuah hal yang mudah, percayalah.
Permintaannya untuk kembali ke waktu lampau, keinginan besarnya untuk bertemu lagi (walau mungkin kita tahu bahwa semua akan berpisah lagi) dan juga pergulatannya untuk menerima dan bersikap positif akan kehilangannya.
Semua itu mengaduk otak saya ini untuk mencoba menyimpulkan jawaban rasionalisasi atas pernyataan retorik itu.
Logikanya, dunia ini, hidup ini semuanya fana, tidak kekal.
Tidak ada yang bisa kita bawa, kaum manusia, dari awal proses fertilisasi kita hingga proses dekomposisi protein tubuh ini.
Begitu pula sebuah perjumpaan, pasti harus kita akhiri dengan adieu, oleh karena keharusan atau karena waktu.
Dari semua prolog yang ada di atas, akhirnya ada beberapa jawaban ngeyel dan ngelantur yang terpikirkan:
Kita mungkin akan berkompetisi dengan waktu dan diri sendiri.
Menghindari perpisahan? Rasanya sulit dan cenderung tak mungkin.
Mempersiapkan perpisahan? Tentu, inilah yang harus kita lakukan.
Seburuk-buruknya perpisahan itu,
There's a good in goodbye, but there's a hell in hello.
Beranikah kita untuk menghadapi perpisahan? Sudah layak dan sepantasnya.
Sudah siapkah kita menemui situasi berpisah? Tak ada yang tahu jawabnya.
Adieu!
Jadi, mengapa judul tulisan ini Adieu?
Adieu dalam bahasa Perancis bermakna perpisahan.
Bukan, tulisan ini bukan sebuah tanda perpisahan, malah mungkin ini adalah sebuah tanda pembaharuan, revolusi (atau mungkin evolusi) diri saya dalam menulis? Semoga.
Sesungguhnya tulisan ini bermula dari sebuah memori acak di otak saya tentang kicauan saya di media sosial Twitter, bunyinya kira-kira begini:
"Untuk apa kita bertemu, kalau pada akhirnya kita akan terpisahkan..." #randomthought
Kalau tak salah ingat, pikiran ini muncul saat saya sedang berada di kamar mandi (yup, kamar mandi memang tempat merenung paling maksimal so far),
setelah beberapa kali saya menyaksikan perpisahan dari dua atau lebih orang yang saling mencintai (bukan hanya pacar atau pasangan, tapi juga orang tua dan sebagainya)
Saat itu, saya belum punya jawaban rasionalisasi atas pernyataan retoris random otak ini.
Saat itu, secara naif, mungkin saya lebih banyak menyalahkan siklus hidup dan rentang waktu, yang tanpa tedeng aling-aling bisa mengambil paksa jiwa raga seseorang yang kita sayangi.
Yah, saat itu.
Setelah terjadi lompatan dan lecutan dimensi dalam beberapa bulan (#lebay), semakin banyak kisah yang masuk ke bagian girus otak yang mengatur kendali berpikir dan juga memori saya (entah apa namanya)
Beberapa kisah, dimulai dari kisah picisan dalam sinema elektronik, kisah angan-angan pikiran saya tentang kehilangan, kisah Cory Monteith dan Lea Michele (so sad for them, really) hingga kisah sedih dari teman saya yang harus kehilangan ayahnya.
Di sini, lagi-lagi pikiran itu muncul, "untuk apa kita bertemu jika akhirnya harus dipisahkan?"
Melihat kicauan seorang anak perempuan yang mencoba struggling dari keadaan kehilangan, berpisah
Bukan sebuah hal yang mudah, percayalah.
Permintaannya untuk kembali ke waktu lampau, keinginan besarnya untuk bertemu lagi (walau mungkin kita tahu bahwa semua akan berpisah lagi) dan juga pergulatannya untuk menerima dan bersikap positif akan kehilangannya.
Semua itu mengaduk otak saya ini untuk mencoba menyimpulkan jawaban rasionalisasi atas pernyataan retorik itu.
Logikanya, dunia ini, hidup ini semuanya fana, tidak kekal.
Tidak ada yang bisa kita bawa, kaum manusia, dari awal proses fertilisasi kita hingga proses dekomposisi protein tubuh ini.
Begitu pula sebuah perjumpaan, pasti harus kita akhiri dengan adieu, oleh karena keharusan atau karena waktu.
Dari semua prolog yang ada di atas, akhirnya ada beberapa jawaban ngeyel dan ngelantur yang terpikirkan:
- Berpisah itu mengajarkan kita arti keikhlasan, menerima dan menyadari bahwa hidup itu sementara dan tidak kekal adanya
- Berpisah setidaknya menahan kita untuk tidak terlalu terkekang dengan keduniawian cinta?
- Berpisah menandakan sebuah akhir dan mungkin juga sebuah awal untuk pertemuan baru (yah, walaupun ini terlihat seperti siklus setan)
- Berpisah itu setidaknya menyadarkan kita untuk selalu bersikap baik, menghargai, mencintai dan menyayangi orang terdekat kita karena tak ada yang tahu kapan waktu akan memisahkan kita
- Berpisah itu membuat kita menghargai sang waktu?
- Berpisah itu bertemu yang tertunda?!
- Berpisah itu menguatkan kita akan akibat proses kehilangan karena berpisah bisa menimbulkan sensasi nyeri yang amat sangat
- Berpisah itu kadang bukan berarti kita tidak bertemu lagi, walau memang paling sering kita tidak akan bertemu lagi (atau kalau menurut berbagai sinetron dan sebagainya, kita bisa bertemu lagi di Surga ataupun Neraka, terserah kita)
Kita mungkin akan berkompetisi dengan waktu dan diri sendiri.
Menghindari perpisahan? Rasanya sulit dan cenderung tak mungkin.
Mempersiapkan perpisahan? Tentu, inilah yang harus kita lakukan.
Seburuk-buruknya perpisahan itu,
There's a good in goodbye, but there's a hell in hello.
Beranikah kita untuk menghadapi perpisahan? Sudah layak dan sepantasnya.
Sudah siapkah kita menemui situasi berpisah? Tak ada yang tahu jawabnya.
Adieu!
June 24, 2013
Setapak Sriwedari
Mungkin benar adanya kalimat, "Waktu yang kan' menjawab..."
Haha, awalnya saat mendengar lagu ini, gue hanya terdiam sambil bertanya-tanya, "Apa maknanya?", "Apa enaknya?"
Tapi, lambat laun, seiring berjalannya waktu, nampakanya suatu saat saya akan berkunjung ke Taman Sriwedari sambil menapaki jalan hidup dan mungkin bertemu cinta atau bersama dengan cinta (di sana), di bawah persetujuan alam #yeslangsunggalauseketika
Tanpa berpanjang lebar, selamat menikmati alunan lagu yang diambil dari album terbaru Maliq & D'Essentials, Sriwedari (2013)
Setapak Sriwedari
Maliq & D'Essentials (2013)
Dan kita berpijak lalu
Suara hati kita bergema melantunkan nada-nada
Lihat fajar merona memandangi kita
Dan kita melangkah untuk
Suara hati kita bergema melantunkan nada-nada
Dan kita berpijak lalu
Suara hati kita bergema melantunkan nada-nada
(Setapak di taman sriwedari) seperti itu aku padamu
Haha, awalnya saat mendengar lagu ini, gue hanya terdiam sambil bertanya-tanya, "Apa maknanya?", "Apa enaknya?"
Tapi, lambat laun, seiring berjalannya waktu, nampakanya suatu saat saya akan berkunjung ke Taman Sriwedari sambil menapaki jalan hidup dan mungkin bertemu cinta atau bersama dengan cinta (di sana), di bawah persetujuan alam #yeslangsunggalauseketika
Tanpa berpanjang lebar, selamat menikmati alunan lagu yang diambil dari album terbaru Maliq & D'Essentials, Sriwedari (2013)
Setapak Sriwedari
Maliq & D'Essentials (2013)
Lihat langit di atas selepas hujan reda
Dan kau lihat pelangi
Seperti kau di sini hadirkan sriwedari
Dalam suka duniawi
Dan kita berpijak lalu
Kau merasakan yang sama sepertiku
Suara hati kita bergema melantunkan nada-nada
Melagu tanpa berkata seperti syair tak beraksara
Lihat fajar merona memandangi kita
Seakan tahu cerita
Tentang semua rasa yang ingin kita bawa
Tanpa ada rahasia
Dan kita melangkah untuk
Lebih jauh lagi, lebih jauh lagi
Suara hati kita bergema melantunkan nada-nada
Melagu tanpa berkata seperti syair tak beraksara
Setapak di taman sriwedari
Setapak sriwedari denganmu
Dan kita berpijak lalu
Dan kita melangkah untuk
Lebih jauh lagi, lebih jauh lagi
Lebih jauh lagi, lebih jauh lagi
Suara hati kita bergema melantunkan nada-nada
Melagu tanpa berkata
Irama hati kita bernada,merayu tanpa bicara
Melagu tanpa berkata seperti syair tak beraksara
Seperti puisi tanpa rima, seperti itu aku padamu
(Setapak di taman sriwedari) seperti itu aku padamu
(Setapak sriwedari denganmu) seperti itu aku padamu
Courtesy: Lirik Kapanlagi.com
May 12, 2013
If Only Your Life is A Computer?!
What if your life is like a computer, which can be arranged "easily" by clicking the mouse buttons or pressing a remote like in "Click"?
What will you do if this really happens to your life?
Deleting your bad memories, sins, sadness or any other negative things to the Recycle Bin? (And you can easily restore them anytime [if you want] or delete them forever)
Copying your great memories and paste them everywhere you want in your path of life?
Finding easily every single positive thing in your life by simply pressing Ctrl+F?
Opening new layer of life by pressing a shortcut Ctrl+N?
Cutting all people whom you want to be cut and letting them being rotten in the Clipboard?
Or cutting all sad points in your life and wishing they won't be come back?
Searching for any kind of helps in the Help & Support Center?
Arranging your life by using all those properties in Control Panel?
Exiting from your life by pressing Esc or Alt+F4?
Unfortunately, your life isn't a computer... Computer is made by human-being to be sly enough to "trick" all problems in life...
And your life? It's God's made. What a pity that when He creates you and your life, He haven't found Charles Babbage (person who create the concept of first mechanical computer), Bill Gates and the others as one of His best friends.
So sorry... :')
Yet, in the end of the story, you only live once, never regret about what has happened in your life.
Plus, don't be worry too much for what will happen in future, later...
Cheers!
What will you do if this really happens to your life?
Deleting your bad memories, sins, sadness or any other negative things to the Recycle Bin? (And you can easily restore them anytime [if you want] or delete them forever)
Copying your great memories and paste them everywhere you want in your path of life?
Finding easily every single positive thing in your life by simply pressing Ctrl+F?
Opening new layer of life by pressing a shortcut Ctrl+N?
Cutting all people whom you want to be cut and letting them being rotten in the Clipboard?
Or cutting all sad points in your life and wishing they won't be come back?
Searching for any kind of helps in the Help & Support Center?
Arranging your life by using all those properties in Control Panel?
Exiting from your life by pressing Esc or Alt+F4?
Unfortunately, your life isn't a computer... Computer is made by human-being to be sly enough to "trick" all problems in life...
And your life? It's God's made. What a pity that when He creates you and your life, He haven't found Charles Babbage (person who create the concept of first mechanical computer), Bill Gates and the others as one of His best friends.
So sorry... :')
Yet, in the end of the story, you only live once, never regret about what has happened in your life.
Plus, don't be worry too much for what will happen in future, later...
Cheers!
April 18, 2013
Sketch(es) are so FUN! :)
So, this is the first time, I put some pictures as a posting in the blog! #poorme #screwme
Anyway, I can re-feel my passion again in doing some artworks, sketches or "corat-coret", rather on a pice of paper or on my iPad! *yeay*
Okay, there are just 4 pictures that I draw recently, but hopefully, I can draw more and more, plus with many kinds of media... :')
So, please enjoy!
#sketchesaresofun
Hope you enjoy it, people! :)
"The purpose of art is washing the dust of daily life off our souls..." -Pablo Picasso-
Anyway, I can re-feel my passion again in doing some artworks, sketches or "corat-coret", rather on a pice of paper or on my iPad! *yeay*
Okay, there are just 4 pictures that I draw recently, but hopefully, I can draw more and more, plus with many kinds of media... :')
So, please enjoy!
| So, this is my first sketch on an iPad :) |
| An abstract sketch in a boring time |
| Artwork that I made from day and night :D |
| My latest sketch on a piece of paper by a bolpoint in a "boring" lecture |
#sketchesaresofun
Hope you enjoy it, people! :)
"The purpose of art is washing the dust of daily life off our souls..." -Pablo Picasso-
Subscribe to:
Posts (Atom)